Sabtu, 22 Oktober 2011

Teori Baru Tentang Terjadinya GEMPA



Apakah ledakan dalam Bumi menimbulkan gempa, ataukah sebaliknya?

Sebenarnya pertanyaan ini ditimbulkan oleh adanya pendapat sarjana Barat tentang Drifting Continents yaitu benua-benua yang senantiasa bergerak. Dengan teori ini mereka telah mengetahui adanya sejuta kali gempa bumi setiap tahun di planet ini. Tetapi mereka lupa bahwa kulit Bumi ini telah sangat kuat kukuh malah sangat rapat, karenanya terdapatlah lautan air dua pertiga dari seluruh permukaannya begitupun orang tidak takut lagi berlayar ke mana saja tanpa perasaan akan jatuh di tempat longsor ke dalam perut Bumi.

Continental Drift dikatakan dengan keterangan lengkap sebagai teori, pertama kali diterbitkan oleh Alfred Wegener, meteorologis Jerman, pada tahun 1912. Dia menerangkan bahwa dulunya sekitar 200 juta tahun yang lalu, benua besar Pangaea telah terpecah. Masing-masing memisah hingga kini menjadi beberapa benua dan pulau-pulau.
Sayang, dia tidak menerangkan penyebah terpecahnya Pangaea tersebut, karenanya teori itu belumlah lengkap sebagai dikatakan, tetapi baru berbentuk dugaan yang ditimbulkan oleh keadaan dan pengalaman yang menimpa. Dia hanya berdasarkan bentuk benua-benua yang ujung-ujungnya cocok dihubungkan, serta fosil-fosil dan hewan yang hampir bersamaan pada benua-benua itu. Sampai kini daratan-daratan Bumi tersebut masih bergerak lalu menimbulkan gempa yang mendatangkan bencana dan kematian.

Maka tercatatlah sebanyak 1.200 stasiun seismograf yang mencatat 500.000 goncangan setiap tahun di muka Bumi, di antaranya 100.000 dapat didengar dan dirasakan penduduk, dan 1.000 kali telah mendatangkan bencana. Empat dan lima gempa bumi berlaku di sekeliling Pasifik, sedangkan yang lain berada di sekitar India, Laut Tengah dan Atlantik.

Tetapi pada tahun 1950 timbullah tantangan hebat dari kalangan ahli geofisika terhadap teori Continental Drift tersebut, dengan alasan bahwa kulit Bumi di dasar lautan telah sangat keras dan kuat hingga tidak memungkinkan berlakunya pergeseran benua-benua. Namun pada tahun 1960 tersiar lagi pendapat yang membela teori Alfred Wegner dengan mengemukakan keterangan-keterangan yang menguatkan.

Yang jelas pergeseran posisi benua yang disebut dengan Continental Drift itu tidak punya alasan kuat dan tidak dapat diterima logika wajar, karena jarak antara masing-masing benua dan pulau begitu jauh, bahkan ada yang ribuan mil. Tambahan lagi permukaan Bumi ini terdiri dari 2 per 3 lautan bukan daratan.

Kini kita kembali pada pertanyaan tadi, apakah ledakan yang menimbulkan gempa, ataukah gempa yang menimbulkan ledakan?

Jawabnya ialah keduanya sama saja. Gempa menimbulkan ledakan itu sendiri juga menimbulkan gempa. Yang menjadi soal adalah penyebab keduanya. Orang membagi dua macam gempa, yaitu tektonik yang ditimbulkan oleh gerak-gerik lapisan Bumi, dan vulkanik yang ditimbulkan oleh letusan gunung.
Gempa tektonik hanyalah kelanjutan dari teori Continental Drift yang tanpa alasan kuat, sementara gempa vulkanik adalah akibat dari akfitivas magma dalam perut Bumi, hingga tercatat sampai sejuta kali gempa bumi besar kecil dalam satu tahun.

Suatu hal yang meniadakan pengetahuan orang Barat tentang penyebab gempa ialah dugaan mereka sendiri mengenai sirkulasi magnet Bumi. Mereka beranggapan bahwa magnet positif di selatan Bumi ke luar ke angkasa kemudian membelok ke arah utara menyelubungi planet ini, seterusnya masuk di kutub utara dan bergerak melalui perut Bumi hingga keluar lagi di kutub selatan.
Secara nyata diperlihatkan kesalahan tentang sirkulasi magnet Bumi. Kesalahan itu bilamana dijadikan dasar perkembangan ilmu pengetahuan, akan terdapatlah kekeliruan yang banyak. Akhirnya berupa deadlock hingga berbagai masalah tak mungkin terpecahkan seperti yang menyangkut dengan asal-usul gempa Bumi.
Padahal orang yang sama mengetahui bahwa semua planet bertarikan dengan Surya yang dikitarinya. Masing-masing bagaikan bergantung dengan tali magnet yang berhubungan dengan Surya. Jika sirkulasi magnet tadi benar kejadian, maka Bumi kita tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Surya. Akibatnya telah lama melayang jauh entah ke mana di angkasa luas meninggalkan Surya tersebut. Diperihatkan juga bahwa magnet hanya berunsur positif, tiada unsur negatifnya. Keadaan demikian tidak cocok dengan kejadian sehari-hari.

a. Jika orang menempatkan suatu batang magnet buatan pada serbuk besi, maka kedua ujung magnet itu sama menarik serbuk tersebut dengan jumlah yang sama banyak. Hal ini membuktikan magnet negatif juga ada bersamaamn dengan magnet positif pada ujung yang berlainan.

b. Jika orang menggantungkan suatu batang magnet secara bebas di udara, maka ujung positif akan tertarik ke utara dan ujung negatifnya tertarik ke selatan. Hal ini membuktikan kedua macam magnet itu selalu ada bersamaan, mengenai wujud dan fungsinya.

c. Jika orang menghubungkan dua ujung kawat beraliran listrik negatif dan positif, maka dia akan menghasilkan cetusan api. Cetusan ini membuktikan adanya unsur negatif bersamaan dengan unsur positif, dan bukanlah negatif magnet itu sesuatu yang kosong hampa.

Tentang keadaan magnet demikian nyata keliru pendapat Barat. Perempuan itu walaupun termasuk golongan negatif, namun dia konkrit ada, bukan kosong hampa. Demikian pula magnet positif dan negatif Bumi.

Jadi untuk menggambarkan sirkulasi magnet Bumi yang selalu berhubungan dengan Surya yang diorbitnya, tentulah unsur magnet negatif juga harus ada bersamaan dengan magnet positif pada kutub yang berlainan. Kedua unsur magnet itu harus dihubungkan dengan Surya yang jadi tempat bergantung bagi Bumi. Tanpa perhitungan skala maka keadaannya sebagai berikut:
Magnet negatif yang keluar dari utara Bumi langsung bergerak ke utara Surya, keluar di permukaannya dan masuk di selatan Bumi. Sementara magnet positif yang keluar dari selatan Bumi langsung bergerak ke selatan Surya, keluar di permukaannya dan masuk lagi di utara Bumi.
Kedua unsur magnet yang berlainan ini berantukan dalam perut Bumi hingga tercatatlah getaran besar kecil sepanjang tahun, dibedakan oleh besarnya radiasi yang datang dari Surya. Perbedaan besar radiasi Surya tersebut disebabkan oleh saling bertarikannya dengan 9 planet lain yang selalu mengorbit, masing-masing bermagnet yang sirkulasinya bersamaan dengan magnet Bumi. Manakala ada suatu planet yang kebetulan satu arah dengan Bumi terhadap Surya, maka terjadilah pembesaran radiasi Surya atas Bumi atau atas planet itu, dan berlakulah misalnya gempa, letusan gunung, tornado atau sebagainya.
Maka dengan gambaran sirkulasi magnet Bumi tadi dapatlah diketahui kenapa magma tidak pernah mendingin tetapi selalu panas karena dia bertindak selaku filamen besar dengan tegangan tinggi yang selalu menyala dalam perut Bumi. Dia selalu dialiri arus listrik dari kutub selatan dan kutuh utara selaku anoda dan kathoda, dan dengan begitu kelirulah juga pendapat orang yang mengatakan magnet jadi hilang pada suhu yang sangat panas. Dengan gambaran tentang sirkulasi magnet tadi juga dapat pula diketahui kenapa permukaan Surya senantiasa bergolak. karena selalu mengeluarkan aliran listrik kepada 10 planet yang mengitarinya.

Kalau orang memperhatikan apa yang dinamakan dengan Van Allen Belts, lalu dihubungkan dengan keterangan kita berdasarkan Al Quran sebagai di atas tadi, akan didapatlah suatu pembukaan baru tentang sirkulasi magnet bumi dengan alasan kuat.
Seorang ahli fisika USA yang mengajar di University Iowa Canada, bernama James A. Van Allen, berdasarkan hasil penyelidikannya tahun 1958, dan diperkuat oleh penyelidikan pesawat tak berawak Explorer 1, 2, dan 12, telah menemukan daerah radiasi luas di angkasa keliling ekuator Bumi. Dalam daerah itu, aliran listrik yang datang dari Surya sebagian besar dapat ditangkap oleh lapangan magnet Bumi sekira ribuan mil dari permukaan planet ini. Kalau digambarkan maka daerah itu tampak berbentuk dua tanduk yang saling menantang atau berupa hilal Bulan.

Bagian dalamnya membujur pada 45˚ garis lintang di utara dan di selatan, sedangkan bagian luarnya sampai pada 62˚.
Dikatakan bahwa datang dari Surya itu entah elektron ataukah proton. partikelnya belum diketahui, tetapi jika orang mengikuti keterangan Alquran, maka yang datang dari Surya itu bukanlah partikel tetapi sinar atau gelombang magnet yang menimbulkan perubahan cuaca atau badai magnet pada aurora di angkasa utara dan selatan bumi.

Setelah kita mengetahui betapa sirkulasi magnet antara Bumi dan Surya, maka dapatlah disadari kenapa jalur gempa dan vulkanik ada pada daerah-daerah tertentu antara Makkah dan Tuamoto di timur dan barat permukaan Bumi. Bahwa magnet positif yang masuk di utara Bumi sebagiannya ada yang membelok ke arah Makkah, yang lainnya langsung menuju ke selatan. Begitu pula magnet negatit yang masuk di selatan ada yang membelok ke Tuamoto di Pasifik dan setengahnya langsung ke utara dalam perut Bumi, hingga gambarnya kira-kira sebagai berikut:

Titik M ialah Makkah di Saudi Arabia terbebas dari gempa dengan beberapa alasan, yaitu kulit Bumi di sana tebal sebab dulunya adalah kutub utara sebelum tofan di zaman Nuh, kedua, karena tempat itu paling jauh dari titik T, dan ketiga karena magnet negatif dari T lebih cenderung bergerak langsung ke arah Artik di titik U.

Sementara itu, titik T ialah Tuamoto di Pasifik. Kegiatan vulkanis di sana masih berlaku karena dulunya kutub selatan yang bermagnet positif. Kini dilalui oleh magnet negatif yang datang dari Antartik di titik S. Dan selatan ini ada aliran magnet yang menuju Makkah di titik M, tetapi sebelum sampainya, telah berantukan dengan magnet dari utara dalam perut Bumi. Dengan sirkulasi magnet demikian dapat diketahui kenapa Australia juga terbehas dari bahaya gempa Bumi, dan Iceland jadi vulkanik sangat hebat.

Maka satu-satunya cara yang efektif mengurangi bahaya gempa dan letusan gunung berapi ialah menghubungkan Makkah dengan Antartik, Tuamoto dengan Artik, dan kutub-kutub itu sendiri melalui Atlantik dengan bahan para magnet. Hubungan yang terakhir ini juga dapat mengurangi bahaya tornado dan hurricane dan sekaligus menghasilkan energi raksasa dari Bumi yang sesungguhnya adalah dynamo alam yang listrik besar. Usaha-usaha pengurangan bahaya tersebut dengan memakai ledakan bom atom ataupun penyuntikan air ke dalam Bumi adalah perbuatan sia-sia dan tidak logis.

Itulah sebagian akibat praktis dari tofan besar di zaman Nuh. Kalau pada masa purbakala manusia bermukim pada Pangaea yaitu daratan luas tanpa laut dan tanpa pergantian musim bahkan juga kekurangan sinar Surya, tetapi tak pernah mengalami bahaya gempa dan tornado, maka kini manusia tinggal pada benua dan pulau-pulau dengan laut dan hujan secukupnya, dengan hasil tambang melimpah ruah, tetapi diancam oleh bencana alam yang semakin banyak.
Kalau dulunya orang tidak perlu berpikir keras dan tidak pernah mendapat pelajaran dari bencana alam, sementara ilmu tinggi yang didapatnya hanyalah tensebab riwayat peradaban yang sangat panjang, maka kini orang harus berpikir keras karena selalu ditantang oleh pergantian musim dan bencana alam, kanenanya manusia kini lebih cepat maju dan dalam beberapa ribu tahun telah mulai melakukan penerbangan artarplanet. Jadi, tofan besar di zaman Nuh. di samping destruktif terhadap masyarakat kafir, juga konstruktif bagi Bumi dan masyarakat manusia kini sebagai yang dimaksud ALLAH pada Ayat 29/19.

Suatu hal lagi yang harus dibicarakan mengenai akibat praktis tadi ialah mengenai posisi dan orbit Bumi keliling Surya. Sudah menjadi pengetahuan umum di dunia selama ini, sebagai tercantum pada gambar no. 1, bahwa Bumi ini miring terhadap Surya. Yang menjadi sebab tentang ini ialah karena orang-orang Barat tidak dapat mengambil pelajaran dari The Bible mengenai peristiwa besar di zaman Nabi Nuh, sebagaimana dinyatakan ALLAH pada Ayat 11/49.
Tetapi selama ribuan tahun mereka dihadapkan kepada pergantian musim yang berlaku, maka untuk way out mereka sengaja memberikan ketentuan bahwa Bumi ini miring terhadap Surya. Dengan posisi begitu terdapatlah pergantian musim yang sangat berpengaruh dalam kehidupan mereka. Walaupun ketentuan ini tanpa dasar dan tidak dapat dipertahankan, namun itulah satu-satunya yang mungkin mereka jadikan pegangan. Mereka menggambarkan status Bumi dalam orbitnya keliling Surya sebagaimana diajarkan di sekolah-sekolah dan termuat dalam buku-buku.

Dengan sketsa demikian, orang Barat memperkirakan bahwa Bumi menempatkan Surya di sebelah kirinya sewaktu mengorbit dengan sumbu putaran yang miring terhadap garis ekliptik, maka tercatatlah daerah permukaan Bumi rnenurut iklim yang ditimbulkan perbedaan sinar Surya yang diterimanya setiap tahun:

a. Frigrid Zone yaitu daerah dingin pada masing-masing kutub Bumi sampai pada 23½ derajat ke selatan atau ke utaranya.

b. Torrid Zone yaitu daerah panas, mulai dari garis ekuator sampai 23½ derajat ke selatan atau ke utaranya.

c. Temperature Zone yaitu daerah musim, berada di antara kedua daerah di atas tadi di belahan selatan dan di belahan utara Bumi.

Di antara tiga macam daerah itu maka Temperature Zone paling luas, semuanya didasarkan atas posisi Surya sepanjang tahun Masehi dipandang dari permukaan Bumi; bahwa:

a. 21 Maret : tepat berada di atas Ekuator, sembari bergerak ke arah utara.

b. 21 Juni : Surya tepat di atas 23½ derajat di belahan utara Bumi. Waktu itu berlaku musim dingin dan malam panjang di kutub selatan. Mulai tanggal itu Surya bergerak kembali ke arab ekuator.

c. 22 September : Surya tepat kembali di atas ekuator sembari bergerak ke arah selatan.

d. 22 Desember : Surya tepat berada 23½ derajat di belahan selatan Bumi. Waktu itu berlaku musim dingin dan malam panjang di kutub utara. Mulai tanggal itu Surya bergerak kembali ke arah ekuator yang dicapainya pada tanggal 21 Maret.


Dengan perpindahan posisi Surya begitu sepanjang tahun terbentuklah pergantiam musim yang jadi dasar penanggalan tahun Masehi. Tetapi bukanlah Bumi berstatus miring di sumbunya sebagai dikatakan berdeklinasi 23°27’, karena memang tiada alasan dan penyebab yang menjadikan demikian.
Dikatakan bahwa bumi senantiasa berada dalam garis ekliptik sewaktu beredar keliling Surya, jika benar demikian, tentulah terjadi gerhana Surya setiap tanggal 1 bulan Qamariah dan gerhana Bulan setiap tanggal 15-nya, namun gerhana tersebut tidak berlaku, karenanya kelirulah pendapat Barat tentang status Bumi tadi.

Berdasarkan logika wajar, setiap orang akan menyatakan sketsa itu keliru, karena kedua kutub Bumi tentulah akan sama jauh dari Surya sepanjang zaman kecuali ada penyebab yang memaksanya berubah. Sementara itu Bumi yang selalu berputar di sumbunya sewaktu berkeliling Surya tentulah kedua sumbunya dan arah putarannya sepanjang terhadap Surya sebagaimana keadaan dua sumbu roda dan arab putarannya terhadap jalan raya. Jika sketsa tadi benar-benar berlaku maka Bumi ini akan keluar dari garis orbitnya keliling Surya ke arah lain sesuai dengan arah putarannya.

Jadi bagaimana keadaan sebenarnya ? Dan bagaimana bentuk orbit Bumi keliling Surya hingga terbentuk pergantian musim?

Bumi bukan berposisi miring terhadap Surya tetapi semenjak berlakunya pendekatan suatu rombongan Comet pada Tatasurya kita, dan Surya keluar dari statusnya lain diikuti oleh semua planet yang mengorbit, maka terjadilah pergantian musim karena setiap planet terdorong ke utara dan ke selatan dari garis ekliptik keliling Surya. Karena dorongan itu dimulai oleh daya tarik Surya terhadap planet-planet tentulah dia menjadi semakin pendek dari masa ke masa. Itulah yang menyebabkan berkurangnya waktu penanggalan musim seperti yang dilakukan oleh Paus Georgery terhadap kalender Julius Caesar pada tanggal 4 Oktober 1582. Julius Caesar benar pada zamannya dan Paus Georgery juga benar pada masanya, maka yang berubah ialah lenggang Bumi ke utara dan ke selatan garis ekliptik menjadi semakin pendek dan otomatis mengurangi pergantian musim.
Pada Encyclopedia Americana 1975 buku 9 halaman 588 termuat keterangan yang artinya antara lain, bahwa tahun itu ternyata deklinasi rotasi Bumi 23°27’ dan garis ekliptik, dan penyimpangan demikian terus berkurang 0°75’ setiap 100 tahun, karena itu praktislah daerab kutub akan jadi semakin luas. Tetapi anehnya, buku itu tidak menerangkan sudah berapa lama deklinasi itu berlaku, berapa derajat dulunya, dan kenapa senantiasa berkurang setiap abad.

Pada hakekatnya, bukanlah Bumi berdeklinasi terhadap garis ekliptik, tetapi terdorong ke utara dan ke selatan, dan pengurangan 0°75’ setiap abad itu bukanlah pengurangan deklinasi tetapi pengurangan lenggang Bumi yang otomatis mengurangi waktu pergantian musim serta memperluas daerah kutub. Untuk ini perhatikanlah kembali catatan dari Bussiness Times.

Kini Surya tampaknya telah rnengurangi geraknya arah ke utara dan ke selatan, rnemperluas daerah kutub-kutub dan memperpendek waktu musim, tetapi yang perlu diketahui juga ialah bahwa dengan itu bencana alam yang ditimbulkan oleh pembesaran radiasi Surya menjadi semakin banyak, melebihi kejadian pada abad-abad yang lampau.

Bukti lain yang dapat disajikan di sini bagi zig-zag lenggang Bumi hingga terwujudnya pergantian musim ialah gerak edaran Sunspots atau bintik-bintik di permukaan Surya, semuanya bergerak arah ke selatan dan ke utara sembari beredar keliling Surya sesuai dengan gerak orbit planet-planet dalam Tatasurya kita.
Kita mengetahui bahwa antara planet-planet dan Surya berlaku saling bertarikan, begitu pula antara Bulan dengan Bumi. Jika yang terakhir ini menimbulkan pasang naik dan surut di lautan, maka hubungan planet-planet dengan Surya menimbulkan bintik-bintik atau Sunspots yaitu bagian-bagian permukaan Surya yang melambung tinggi hingga puncak apinya agak meredup dan tampaknya agak gelap.

Jadi dengan gerak edaran Sunspots demikian dapatlah diketahui aktifitas radiasi Surya yang sampai ke Bumi di mana perubahan cuaca berlaku atau mungkin pula gempa dari letusan gunung. Dan dengan itu juga jelaslah bahwa Bumi bersama planet lain senantiasa melenggang dari garis ekliptik sewaktu mengorbit keliling Surya. Kalau misalnya Bumi dan planet-planet itu selalu dalam garis ekliptik maka Sunspots tadi tidak akan ikut melenggang tetapi akan selalu pula berada pada ekuator permukaan Surya.

Kemudian itu perhatikan pula daerah Umbra yang ditimbulkan gerhana Surya total yaitu daerah gelap sewaktu gerhana itu berlaku. Kalau benar pendapat Barat tentang posisi Bumi dalam orbit nya senantiasa dalam garis ekliptik, tentulah daerah Umbra itu berbentuk garis lurus dari barat ke timur, tetapi kenyataannya melengkung ke utara atau ke selatan sesuai dengan gerak lenggang Bumi ke selatan dan ke utara garis ekliptik tersebut.
Tentang ini para sarjana barat tidak mungkin memberikan keterangan tentang alasan dan penyebab, sebagaimana mereka juga tidak menerangkan kenapa Bulan yang mengorbit keliling Bumi tidak selalu tepat di atas garis ekuator Bumi, tetapi terdorong ke utara dan ke selatan. Kalau Bumi dikatakan mengorbit selalu dalam garis-garis ekliptik tentulah juga Bulan selalu berada di atas garis ekuator keliling Bumi.

Mengenai gerhana Surya penuh, The Book of PopuIar Science jilid 3 halaman 130 menerangkan antara lain maksudnya, bahwa:

a. Jarak Bulan dan Bumi rata-rata 239.000 mil, paling dekat 221.500 mil ketika mana dapat berlaku gerhana penuh, dan paling jauh 252.000 mil.

b. Gerhana total menyebabkan adanya Umbra yaitu daerah gelap penuh, dan gerhana partial menyebabkan adanya Penumbra yaitu daerah agak gelap.

c. Gerhana total selalu dimulai dengan gerhana partial dan disudahi juga dengan gerhana partial.

d. Penumbra dan Umbra itu bergerak dari barat ke arab timur permukaan Bumi dengan kecepatan melebihi 1.000 mil perjam.

e. Umbra ada sekira 167 mil diameter dan bergerak ke timur selama 7 ½ menit, didahului sekira 2.500 mil penumbra dan diakhiri dengan 2.500 mil penumbra.

Gerhana total hanya dapat berlaku pada waktu menjelang hilal Bulan atau pada tanggal 1 hari bulan Qamaniah. Berdasarkan alinea a dan f di atas ini dapatlah diketahui bahwa Perihelion orbit Bulan berlaku pada setiap tanggal 1 hari bulan Qamariah , waktu mana Surya, Bulan. dan Bumi berada dalam satu guris lurus, tetapi karena Bulan dan Bumi terdorong ke utara dan ke selatan sewaktu mengorbit, maka gerhana Surya tidak berlaku pada setiap tanggal 1bulan itu. Lenggang Bumi tersebut dapat dibuktikan dari gambar daerah yang dilalui Umbra yang tidak dibicarakan dalam The Book of Popular Science tentang alasan dan penyebabnya:

Terdapat empat kali gerhana Surya total yang berlaku pada tanggal dari tahun yang berbeda. Keempatnya tampak membentuk jalur gelap dan barat arah ke timur dan kemudian membelok ke utara atau ke selatan. Keadaan pembelokan demikian harus mempunyai alasan dan salah satu cara untuk mendapatkannya hanyalah dengan menganalisa Ayat Suci Alquran.

Kita sudah mengetahui babwa mulai tanggal 22 Desember setiap tahun, Surya tampak bergerak ke arah utara, Padahal yang kejadian ialah Bumi kita sendiri yang bergerak arah ke selatan. lngatlah, Surya adalah pusat orbit yang dikitari oleh sepuluh planet termasuk Bumi ini. Demikian pula mulai tanggal 21 Juni Surya tampak bergerak arah ke selatan, padahal Bumi kita yang bergerak ke utara.

Maka gerhana total yang berlaku pada tanggal 10 Juli 1972 dan tanggal 31 Juli 1981 ternyata membuat lajur Umbra yang melengkung ke selatan. Yang demikian berarti bahwa waktu itu Bumi sedang bengerak ke arah utara hingga bayangan Bulan tampak membelok ke selatan. Demikian pula yang berlaku pada tanggal 7 Maret 1970 dan 26 Maret 1979. Ketika itu Bumi sedang bergerak ke arah selatan maka bayangan Bulan tampak membelok ke utara.

Hal begitu tentulah menjadi masalah besar bagi ilmu astronomi, tetapi The Book of Popular Science tidak memperbincangkannya, tentang mana kita merasa bahwa penulisnya kelupaan atau belum mempunyai bahan analisa berdasarkan teori tentang orbit Bumi yang dianut . Namun jalur Umbra gerhana total tersebut adalah satu di antara sekian banyak bukti yang menerangkan bumi terdorong ke selatan dan ke utara garis ekliptik dalam orbitnya kini. Demikian pula yang berlaku pada planet-planet lain dalam daerah tatasurya kita.
Jika digambarkan Surya sebagai suatu titik segitiga dan kutub magnet selatan dan utara Bumi menjadi dua sudut lainnya, maka terbentuklah segitiga samakaki yang selamanya berlaku dalam tarik-menarik antara Surya dengan bumi. Hubungan yang berbentuk segitiga samakaki tersebut tetap berlaku walaupun Bumi terdorong ke selatan dan ke utara garis ekliptik.

Keadaannya sebagai berikut:

Sebelumn topan besar di zaman Nuh, semua planet mengorbit keliling Surya senantiasa berada dalam garis ekliptik. Sesudah tofan besar itu berlakulah gerak zigzag planet-planet dalam orbitnya hingga setiapnya keluar dan garis ekliptik ke arah selatan dan utara.

Sewaktu Bumi terdorong ke utara, namun kutub-kutub magnet Bumi tetap membentuk segitiga samakaki dengan Surya, begitu pula kebetulan berada di selatan garis ekliptik seperti yang berlaku pada planet Mars. Maka perubahan tempat kutub-kutub magnet yang senantiasa berpindah tempat menurut keadaan kini telah sama diakui oleh para Sarjana Barat.
Memang kutub-kutub magnet itu hanya berada tepat pada kutub putaran Bumi yaitu pada tanggal 21 Maret dan 22 September waktu mana Bumi tepat pula pada guris ekliptik. Selain pada kedua tanggal itu, tercatatlah posisi kutub-kutub magnet Bumi berpindah tempat maksimal 10 derajat atau lebih kurang 1.100 km dari kutub putaran, dan waktu itu tercatatlah tanggal 21 juni yaitu ketika Bumi berada maksimal di selatan ekliptik dan tanggal 22 Desember ketika Bumi maksimal di utara ekliptik. Inilah yang dimaksud dalam Ayat 16/48, 71/19 dan Ayat 71/20.

Hubungan tarik menarik itu menimbulkan Sunspots yang juga beredar keliling permukaan Surya pada arah bersamaan dengan gerak planet-planet bahkan mengikuti zigzag orbit planet-planet itu sendiri. Demikianlah banyak sekali catatan yang kita temui tentang Sunspots dengan geraknya yang zigzag tersebut disiarkan oleh para sarjana Barat, perbedaannya ialah bahwa mereka menghitungnya ada 100, sedangkan Ayat 69/32 menyatakan hanya 70 buah.

Jika orang sudi memperhatikan posisi Sunspots, akan diketahuilah bahwa masing-masingnya memberi petunjuk tentang posisi planet yang menimbulkannya keliling Surya. Karena itu setiap Sunspots itu memperlihatkan aktivitas tinggi yang menurut catatan rata-rata 10.000 dan ada yang sampai sejuta kali kegiatan daerah lainnya di permukaan Surya.

Semisal Mercury atau Venus berada pada titik Konsentrasi (K) maka planet itu tepat berada di atas suatu Sunspots, maka ketika itu berlakulah bencana alam di permukaan planet tersebut. Demikian pula Mars sendiri sewaktu kebetulan berada pada titik Konsentrasi Jupiter atau Saturnus maka kenyataannya memang Mars adalah suatu planet yang paling parah karena mengorbit di bawah dua planet besar, dan kebetulan tepat pada jangkauan Konsentrasi keduanya.

Bumi sendiri walaupun tidak berada pada jangkauan suatu Konsentrasi planet lain, namun ada tujuh planet yang mengorbit di atas garis edarnya. Pada waktu-waktu tertentu masing-masing transit tepat, tetapi banyak sedikitnya ikut juga mengganggu keadaan Bumi. Yang demikian berlaku tujuh kali dalam setahun.
Semisal suatu planet luar tepat mengadakan transit di atas Bumi terhadap Surya, maka waktu itu radiasi yang harus sampai kepada planet tersebut menjamah Bumi. Apakah radiasi itu berbentuk magnet negatif ataupun positif, namun Bumi mendapat kelebihan dan ini menimbulkan bencana alam, apalagi jika planet itu kebetulan pula berada di dekat Perihelion orbitnya waktu mana tanik-menanik dengan Surya besar sekali.

Sebagai contoh misalnya Jupiter mengadakan transit di atas Bumi. Kita mengetahui bahwa besar planet itu 318 kali besar Bumi. Semisalnya waktu itu 2 hagian saja dan radiasi yang harus sampai ke Jupiter sempat menjamah Bumi, maka tenaga Surya yang menimpa Bumi menjadi tiga kati lipat yaitu 3 x 600 trillion ton menurut perhitungan orang Barat.
Ingatlah bahwa Bumi ini diperkirakan orang seberat 600 trillion ton senantiaasa mengorbit keliling Surya. Hal ini berarti bahwa daya tarik Surya sebanyak itu menahan Bumi hingga planet ini tetap stabil dalam orbitnya. Maka kita dapat mengira apa yang mungkin terjadi jika tenaga Surya itu ditambab dengan 1.200 trillion ton lagi.

Pada umumnya ketujuh planet luar itulah yang menimbulkan bencana alam di muka Bumi, baik berupa gelombang pasang, gelombang panas, ledakan besar, letusan gunung, gempa, tornado, hurricane atau sebagainya. Perbedaan akibat yang ditimbulkannya itu disebabkan oleh besar kecil kelebihan radiasi dan Surya begitupun positif atau negatifnya magnet yang menjamah Bumi waktu itu.
Hendaklah diketahui bahwa yang datang dari Surya itu bukanlah elektron atau proton dan bukan pula neutron, tetapi magnet dan sinar yang bukan partikel atom, tetapi keduanya dapat mempengaruhi atom dan partikelnya. Yang menjadi bencana alam ialah kelebihan magnet dan Surya. Jadi persoalan bencana alam adalah masalah magnetism dan electricity yang pada waktu-waktu tertentu berlebihan menimpa bumi yang di dalamnya magma selalu panas karena dijadikan media oleh kedua pengaruh tadi begitupun dikelilingi troposfir yang sangat rawan bagi badai magnet.

Bencana alam demikian tidak pernah menimpa manusia sebelum topan besar di zaman Nuh, karena waktu itu semua planet senantiasa mengorbit keliling Surya pada guris ekliptik, dan penduduk hanya bermukim di belahan kutub utara Bumi. Kalau bencana terjadi juga maka dia hanya menimpa daerah ekuator yang tidak didiami orang.
Tetapi kini kutub-kutub Bumi telah berpindah ke tempat baru, dan planet-planet mengorbit zigzag keluar dari ekliptik, sementara itu penduduk mendiami hampir semua pelosok daratan Bumi, karenanya praktislah bencana alam ini berlaku di sana-sini . Namun dia masih mengandung nilai konstruktif di samping destruktif.


1. Pada bulan Zulhijjah dan Muharram , Bumi berada di dekat Perihellon orbitnya, waktu itu Surya lebih dekat dan otomatis radiasinya membesar terhadap Bumi.

2. Sekali dalam 400 hari, Jupiter lewat di atas Bumi. Ketika itu sedikit banyaknya mendapat pembesaran radiasi dari Surya.

3. Sekali dalam 380 hari, Saturnus lewat di atas Bumi yang tentunya mengalami badai magnet dari Surya.

4. Sekali dalam 370 hari, Muntaha melintas di atas Bumi yang pasti mengalami perubahan cuaca.

5. Sekali dalam 11 tahun 130 hari, Bumi berada di bawah Jupiter yang sedang bergerak di titik Perihelion orbitnya.

6. Sekali dalam 81 tabun, Bumi mengalami dubble transit dari Jupiter dan Saturnus, ketika mana praktis berlaku bencana besar pada suatu daerah permukaan planet ini.

7. Dan alangkah hebatnya bencana yang dialami jika beberapa planet luar itu kebetulan berada setantang terhadap Surya waktu mana Bumi berada di tengahnya.
Sangat banyak bencana tersedia dalam kehidupan kini, semuanya disusun ALLAH dengan perencanaan pada mana terkandung siksaan dan ujian, sebaliknya juga dapat menjadi bahan peningkatan bagi kemajuan peradaban yang seharusnya benar-benar dapat difahami, sebagaimana surya menjadi bahan kehidupan pokok bagi semua makhluk di bumi, demikian pula dia menjadi sumber bencana di dunia kini dan berfungsi neraka di akhirat nanti.

Pembesaran radiasi dari surya secara terang menimbulkan letusan gerapi begitupun gempa yang merusak karena perantukan magnet positif dan negatif dalam perut bumi, sebelumnya tentulah ditandai dengan perubahan cuaca di atmosfir di atas daerah tertentu. Maka yang jadi pertanyaan:

Apakah yang menimbulkan ledakan besar dan gelombang panas, dan apa pula yang menimbulkan badai dan hurricane?

Kedua macam pertanyaan ini haruslah dijawab dengan perhitungan tepat berdasarkan jumlah pembesaran radiasi dari surya tentang mana dibutuhkan para ahli dengan segala alatnya yang modern, tetapi kita cenderung pada pendapat bahwa perbedaan jumlah unsur magnet yang menimpa, menimbulkan akibat yang juga berbeda. Maka bencana yang satu desebabakan oleh pembesaran radiasi surya yang bermagnet positif, sedangkan yang lainnya ditimbulkan oleh yang negatif.

Sekiranya orang dapat membenarkan pendapat kita tentang sirkulasi magnet, maka akan mudahlah baginya memahami kenapa ada dua macam bencana di atmosfir bumi:

J dimisalkan Jupiter suatu planet besar mengorbit keliling surya diatas bumi. Pada suatu waktu bumi kita mungkin dijamah oleh radiasi bermagnet positif yang harus sampai ke Jupiter dari surya seperti pada B.1. ketika itu berlakulah gelombang panas atau ledakan besar sebagaimana pernah berlaku di Sodom dan Gomonah memusnahkan kaum lesbian dan homoseks, di Saudi Arabia memusnahkan pasukan bergajah, dan di Tunguskha Siberia tanggal 30 Juni 1908 untuk jadi peringatan bagi peradaban kini. Waktu itu magnet positif dari Surya secara paksa membombardir molekul-molekul udara yang sudah stabil, karenanya terjadilah akibat dahsyat.

Mungkin pula Bumi kita dijamah oleh radiasi bermagnet negatif yang harus sampai ke Jupiter seperti pada B.2. Ketika itu berlakulah badai atau hurricane di atmosfir yang mulanya stabil. Bencana ini biasa berlaku di Pasifik Barat karena di daerah itu radiasi dan Surya harus cepat berbelok ke selatan sebelum Bumi dalam putarannya menghadapkan Saudi Arabia yang jadi kutub negatif dulukala. Tetapi lebih hebat lagi bencana ini menimpa Atlantik Barat karena di daerah ini radiasi dari Surya haruis segera membelok ke selatan sebelum Bumi dalam putarannya menghadapkan kepulauan Tuamoto yang jadi kutub positif purbakala.

Berbagai catatan tentang kejadian sangat menyedihkan telah kita miliki. Sungguh besar kerugian harta benda dan kematian yang ditimbulkan oleh badai di Atlantik Barat ini hingga The National Hurricane Centre dalam lingkungan ESSA (Environmental Science Services Administration) di Amerika Serikat jadi kewalahan.
Dari mulai tahun 1962 ESSA memakai beratus orang spesialis untuk mengawasi daerah seluas 380.000 mil Berbagai alat termasuk radar, satelit, komputer dan angkatan udara telah dipergunakan untuk mengatasi badai itu, dan pernah dilakukan bombardemen dan atas pusaran hurricane dengan es kering berupa kristal dan silver iodide, namun segala usaha itu tampaknya tidak berguna, sementara bencana senantiasa
menimpa setiap tahun.

Orang hendaknya tidak mencari di mana adanya hurricane lalu memusnahkannya karena yang demikian sama dengan menantang air bah yang berulang, tetapi hendaklah mencari sebah musabab timbulnya bencana itu dan kemudian menjadikannya tidak berbahaya sembari memfaedahkannya untuk kehidupan masyarakat.
Orang hendaklah mengalirkan hurricane itu kepada suatu yang menguntungkan. Caranya ialah dengan memahami sirkulasi magnet antara Surya dan Bumi yang dulunya berkutub putaran di Makkah dan Tuamoto, kemudian mempermudah aliran magnet itu dengan saluran buatan sebagaimana kita kemukakan pada halaman-halaman di muka atau dengan teknik lainnya.

Semua yang di atas ini adalah hal-hal yang terjadi pada susunan benda angkasa di mana Rawasia memegang peranan penting, bahwa kutub-kutub Bumi telah berpindah tempat di zaman Nabi Nuh sebagaimana juga berlaku di planet-planet lain pada mana terdapat hal-hal destruktif, namun nilainya yang konstruktif nyata lebih besar.

(ams, disarikan dari http://forum.kompas.com/showthread.php?23918-Teori-Baru-Tentang-Terjadinya-GEMPA)- DpTanjung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar